----------------------------------------------------------------------------------
Sebelum saya menjadi pelatih Olimpiade Matematika Internasional, saya
adalah seorang guru honorer di sekolah, guru bimbel dan guru privat yang
biasa mendatangi dari pintu ke pintu rumah murid-murid saya. Sebelum
saya menjadi guru honorer, saya adalah orang yang tidak suka mengajar
matematika. Kenapa akhirnya saya menjadi pengajar matematika? hal ini
karena kondisi ekonomi yang membuat saya menjadi pengajar. Kondisi pada
saat saya lulus kuliah di tahun 1998, Indonesia sedang mengalami krisis
moneter. Sehingga mencari pekerjaan sangatlah sulit. Akhirnya saya
terdampar menjadi guru fisika sebelum menjadi guru matematika di sebuah
SMA Negeri di Bogor.
· Dalam mengajar, dekat kepada anak lebih penting daripada tingginya tingkat ilmu si pengajar.
Pada saat menjadi guru, saya bukanlah guru yang bagus dalam mengajar.
Hanya saya adalah guru yang mempunyai hubungan baik dengan para siswa.
Sehingga saya menjadi guru yang dekat dengan siswa. Akhirnya saya
menjadi guru yang disenangi siswa, bukan karena mengajar saya yang
bagus, tetapi karena saya akrab dengan para siswa. Guru itu ibarat teko
dan murid ibarat cangkir. Agar air dari teko tidak tumpah, maka teko
harus dekat dengan cangkir. Tidak jarang guru yang ilmunya banyak,
tetapi ilmunya sulit diterima oleh para murid. Hal ini karena teko
dengan cangkir posisinya jauh, baik dari segi jarak maupun tinggi.
Sehingga air yang keluar dari teko tidak sampai ke cangkir atau kalaupun
sampai hanya sedikit. Contoh jika seorang profesor mengajar anak SD dan
materi yang diajarkan materi SD tetapi gaya bahasanya seperti mengajar
anak kuliahan dan logika yang dipakai seperti menghadapi mahasiswa S3
maka hampir dipastikan anak-anak SD tersebut tidak memahami apa yang
diajarkan oleh sang profesor tersebut.
Hal ini pun terjadi kepada
orang tua yang sedang mengajar anaknya tentang suatu ilmu, khususnya
ilmu matematika. Banyak anak tidak suka matematika karena mendapatkan
kesan buruk tentang matematika dari orang tuanya sendiri, biasanya hal
ini terjadi ketika anak tersebut masih kecil. Orang tua ketika mengajar
matematika anaknya, biasanya dilandasi oleh keinginan agar anaknya
hebat, pintar, juara kelas, berprestasi dll. Harapan besar yang ada di
dalam benak orang tua tersebut, membuat adanya jarak antara anak dan
orang tua atau ada jarak antara “teko dengan cangkir”. Jarak tersebut
disebabkan adanya target terlalu tinggi sehingga akan ada tekanan dalam
mengajar, sementara anak ingin belajar dalam suasana yang nyaman.
Akibatnya hampir dipastikan hasil dari proses belajar itu bukannya anak
semakin paham matematika, tetapi hasilnya anak menangis karena dimarahi
orang tuanya selama belajar matematika. Hasil dari pengajaran seperti
itu adalah ANAK BENCI MATEMATIKA.
· Menjadi guru Matematika tidak harus paham semua materi Matematika.
Waktu saya belajar di SMA, Saya mengenal guru matematika yang hebat
yang memperoleh banyak penghargaan di bidang matematika, guru tersebut
merupakan guru matematika yang sangat berkesan bagi saya sampai
sekarang. Beliau mengajarkan matematika melalui pendekatan Penyetaraan
Ego Sosial, dimana beliau mengajari murid-muridnya sebagaimana seorang
teman, dengan komunikasi bahasa indonesia yang dicampur dengan bahasa
sunda yang halus, memudahkan kita memahami materi matematika yang
diajarkan beliau. Ketika saya sudah mulai menekuni Olimpiade matematika
di SMA dan beliau sudah tidak membidangi hal tersebut. Saya diminta
belajar mandiri dengan mempelajari buku yang direferensikan beliau dan
belajar kepada orang lain yang lebih mahir dalam bidang olimpiade
matematika salah satunya adalah guru beliau sendiri yaitu Prof Andi
Hakim Nasoetion. Saya belajar secara informal dengan pakar Matematika
dari Institut Pertanian Bogor ini, karena saya sama sekali tidak
mengambil mata kuliah yang diampu oleh sang Profesor. Setelah interaksi
dengan Profesor di bidang Statistik inilah saya jadi menggemari
Olimpiade Matematika.
Hikmah dari cerita di atas adalah Guru
Matematika hebat pun akan ada batas kemampuannya sehingga harus
menyerahkan muridnya untuk diajarin orang lain. Apalagi orang tua siswa
yang tidak membidangi matematika. Orang tua akan menjadi guru yang
berkesan bagi anaknya ketika mengajarkan dengan cara Menyetarakan Ego
Sosial terlebih dahulu. Bentuknya adalah ketika mengajarkan matematika
ke anak sendiri, orang tua harus menganggap dirinya teman bermain
anaknya. Ketinggian ilmu yang diajarkan orang tua tidaklah penting. Jika
orang tua hanya bisa mengajarkan matematika dalam bentuk mengajarkan
anak menyebutkan angka dari 1 sampai 10 dengan baik dan benar. Maka
orang tua tersebut sudah menjadi guru matematika bagi anaknya.
· Matematika bukan hanya berhitung.
Saat ini banyak orang tua menganggap bahwa matematika itu adalah
berhitung. Sehingga jika anaknya sudah bisa berhitung apalagi berhitung
dengan cepat maka dianggap anaknya sudah jago matematika. Padahal
matematika bukan hanya itu. Secara entimologi, matematika berasal dari
bahasa latin manthanein atau mathemata yang berarti “belajar atau hal
yang dipelajari” (Things that are learned). Dalam bahasa Belanda disebut
wiskunde atau ilmu pasti, yang kesemuanya berkaitan dengan penalaran.
Matematika juga berhubungan dengan aturan-aturan yang didapat dari
kesepakatan-kesepakatan. Aturan-aturan tersebut dituliskan biasanya
dalam bentuk lambang-lambang. Contoh orang sudah sepakat kalau lambang
“1” adalah satu, lambang “2” adalah dua, lambang “3” adalah tiga,
lambang “+” adalah tambah, lambang “=” adalah sama dengan. Dengan
menggunakan penalaran diperoleh sebuah kesimpulan kalau satu ditambah
dua maka hasilnya tiga. Sehingga jika dituliskan dalam bentuk lambang
kesimpulannya adalah 1 + 2 = 3. Kalau ada kesepakatan baru misalnya
kalau lambang “#” adalah satu, lambang “*” adalah dua dan lambang
“&” adalah tiga. Maka berdasarkan penalaran yang sama akan diperoleh
# + * = &. Pernyataan tersebut kita anggap benar kalau semua
sepakat dengan lambang yang baru tersebut. INILAH MATEMATIKA.
Matematika mengajarkan anak untuk memahami dan mentaati aturan-aturan
sesuai kesepakatan-kesepakatan. Anak tidak boleh melanggar aturan yang
sudah disepakati kalau tidak ingin dihukum atau hasil kerjanya
disalahkan oleh guru. Sebenarnya dalam kehidupan nyata pun ada
aturan-aturan yang sudah jadi kesepakatan dan harus di taati. Contoh
dalam berlalu lintas, ketika lampu merah maka kendaraan berhenti. Saat
itulah anak harus berjalan menyeberangi jalan. Pada saat lampu hijau
mobil berjalan maka anak harus berhenti di pinggir jalan. Jika jalanan
macet sehingga mobil berhenti di jalan pada saat lampu hijau, apa yang
harus dilakukan ada pada saat itu. Tentulah penalaran harus digunakan
untuk memutuskan apa yang harus dilakukan. Jika direnungkan dengan makna
matematika yang saya buat, maka ketika orang tua mengajarkan anak
aturan berlalu lintas, secara filosofis orang tua sedang mengajarkan
matematika. Matematika itu saya sebut MATEMATIKA TANPA ANGKA. Jadi
matematika buka hanya berhitung.
· Dalam MATEMATIKA TANPA ANGKA yang pertama kali dipelajari anak adalah Adab dan Akhlak.
Semua orang tua pasti menginginkan anaknya sukses di masa depan. Kita
pun sepakat kalau orang yang mempunyai kecerdasan spiritual akan lebih
sukses dari pada orang yang hanya mempunyai kecerdasan intelektual yang
tinggi. Adab dan akhlak yang baik yang merupakan wujud kecerdasan
spiritual yang tinggi. Orang tua yang mengajarkan anaknya adab dan
akhlak yang baik sejak kecil, sesungguhnya orang tua tersebut sedang
mengajarkan Matematika Tanpa Angka, karena pada pelajaran adab dan
akhlak ada aturan-aturan yang harus dipatuhi dan ada penalaran yang
digunakan untuk memahami aturan-aturan tersebut sebelum dipraktekan
dalam kehidupan sehari-hari. Kemampuan penalaran anak terasah untuk
memahami hal yang kongkrit dan tidak kongkrit ketika belajar adab dan
akhlak. Ketika penalaran anak terasah maka anak tersebut akan mudah
memahami pelajaran matematikanya di sekolah (Matematika dengan Angka),
karena matematika akan lebih mudah dipahami dengan menggunakan
penalaran.
· Adab dan Akhlak adalah adalah LELUHUR ILMU PENGETAHUAN.
Jika kita sudah sepakat kalau kita harus belajar adab dan akhlak
terlebih dahulu sebelum belajar matematika di sekolah, sedangkan
matematika adalah ratu ilmu pengetahuan menurut Karl Freidrich Gauss.
Maka adab dan akhlak pun posisinya lebih tinggi dari matematika dan
tentunya jauh lebih tinggi dari dari ilmu pengetahuan. Oleh karena itu
kita harus tetap belajar adab dan akhlak terlebih dahulu sebelum belajar
ilmu pengetahuan. Pada kondisi ini saya menyebut adab dan akhlak
adalah leluhur ilmu Pengetahuan. Oleh karena itu adab dan akhlak adalah
yang pertama dan utama yang harus dipelajari manusia.
Di lembaga
saya, Klinik Pendidikan MIPA, Saya sudah mengajar ribuan anak-anak
pelajaran matematika. Setelah saya memahami konsep Adab dan Akhlak
adalah LELUHUR ILMU PENGETAHUAN. Sambil mengajarkan matematika saya
menanamkan adab dan akhlak. Bagi siswa yang beragama islam saya
menganjurkan anak melaksanakan 7 sunnah seperti Puasa senin-kamis,
sholat tahajud, Sholat dhuha, sedekah, sholat berjamaah, tadarus al
Quran dan menjaga wudhu. Bagi yang beragama lain silahkan melaksanakan
sesuai ajaran agamanya masing-masing. Banyak hal ajaib yang terjadi,
murid saya yang awalnya tidak berprestasi, kemudian sekarang menjadi
anak yang diperhitungkan seiring dengan bertambah hapalan Al Qur’annya.
Ada anak yang mulai mempunyai prestasi di bidang olah raga karena sudah
mulai rajin sholat Dhuha. Bahkan ada anak yang beragama lain ketika
anak tersebut mulai rajin berbagi (sedekah), prestasi anak itu pun
meningkat. Perlahan tapi pasti murid-murid KPM menjadi anak-anak
berprestasi baik di bidang matematika maupun di bidang lainnya. Ada
yang menjadi juara di bidang komputer, bahasa Inggris, lomba menari,
pencak silat, taekwondo dll. Uniknya prestasi ini mulai terjadi secara
masif dialami oleh murid-murid saya yang menjadikan Adab dan Akhlak
sebagai landasan dalam menuntut ilmu.
· Adab dan Akhlak membuat ilmu menjadi lebih bermanfaat.
Perbaikan adab dan akhlak dalam pembelajaran di KPM terasa dampaknya
pada prestasi anak-anak KPM di berbagai bidang. Padahal bidang-bidang
tersebut tidak diajarkan di KPM. Hal ini menunjukkan ilmu yang
dipelajari oleh siswa-siswa KPM menjadi lebih bermanfaat baik bagi siswa
itu sendiri maupun orang lain. Seharusnya adab dan akhlak menjadi
pelajaran wajib di sekolah dan porsinya paling banyak dari pada
pelajaran yang lain. Khusus sekolah kecil di mulai kelas TK dan SD kelas
1sampai 3, jangan diajarkan pelajaran matematika yang berat. Justru
perbanyak pelajaran yang berhubungan dengan adab dan Akhlak seperti
belajar mengantri, malu jika mencontek, mematuhi rambu lalu lintas
khususnya lampu lalu lintas, dll. INILAH SESUNGGUH CARA YANG BENAR AGAR
MEMBUAT ANAK MENJADI PINTAR MATEMATIKA DI SEKOLAH.
Di Indonesia
banyak sarjana yang menganggur karena tidak mampu memanfaatkan ilmunya,
atau bisa dikatakan ilmunya tidak bermanfaat atau mungkin tidak ada
ilmunya. Bahkan di Indonesia banyak Doktor yang karya-karyanya tidak
bisa kita rasakan (seperti ucapan Wakil Presiden Jusuf Kalla kepada
sebuah lembaga pemerintah, bahwa lembaga ini akan hilang ilmunya karena
Doktor-doktornya tidak pernah dipakai (
Kompas.com
29/7/2015), bukan karena Doktor-doktor itu bodoh tapi karena ilmunya
tidak bermanfaat atau tidak bisa di manfaatkan. Kenapa hal ini bisa
terjadi ? hal ini karena pendidikan di negeri kita saat ini fokus pada
segala sesuatu yang bisa dihitung dengan materi tanpa berpikir yang
namanya keberkahan. Sehingga efeknya banyak ilmu yang dimiliki oleh
orang-orang pintar di Indonesia menjadi tidak bermanfaat. Keberkahan
itu ada pada adab dan akhlak yang baik.
· Adab dan Akhlak yang baik rahasia untuk belajar Matematika dengan mudah
Adab dan akhlak yang baik sebagai penyebab anak menjadi pintar
matematika adalah teori yang sudah terbukti dan jarang diketahui oleh
banyak orang tua. Oleh karena setelah mengetahui teori ini segeralah
dipraktekkan. Orang tua harus menjadi contoh hidup bagi anaknya dalam
mengajarkan adab atau akhlak. Contoh mengajarkan adab atau akhlak
diantaranya adalah Orang tua mengajarkan anaknya hormat pada guru.
Kalau ada orang tua yang sampai memaki guru karena guru tersebut
memarahi anaknya, jangan harap anaknya menjadi pintar matematika.
Seandainya nilai matematika anaknya bagus, jangan harap nilai tersebut
memberikan manfaat dan kebahagian. Menghormati guru adalah sebagian
kecil dari adab dan akhlak yang baik. Bagi orang yang beragama islam Al
Qur’an dan Hadist Nabi adalah sumber dari segala sumber ilmu Matematika
Tanpa Angka yang didalamnya tentu ada adab dan akhlak.
Sebagai
wujud mendukung orang tua untuk mengajarkan adab dan akhlak
putra-putrinya. KPM dan Majalah Gontor mengadakan Kompetisi matematika
dan Studi Islam dengan nama Fachruddin Ar-Razi Competition. Kompetisi
diharapkan untuk menyadarkan anak-anak Indonesia yang beragama islam
untuk mempelajari keduanya. Jika ada pertanyaan kenapa anak-anak
pesantren yang banyak mempelajari Al Qur’an dan Hadist ternyata prestasi
matematikanya tidak bagus? jawabnya di pesantren tidak ada guru
matematika yang mumpuni. Jika ada guru matematika yang mumpuni di
pesantren pasti anak-anak pesantren pun akan bagus matematikanya. Jika
ada pertanyaan kenapa anak-anak yang di sekolah umum prestasi matematika
pun tidak begitu hebat jika dibandingkan sekolah non muslim. Jawabannya
karena anak-anak islam yang belajar di sekolah rata-rata mereka tidak
mempelajari Al quran dan hadist Nabi. Hal ini karena sudah adanya
pemisahan (dikotomi) antara ilmu agama dan ilmu umum.
Sejarah
telah mencatat lebih dari 1000 tahun kekhalifahan islam dari sejak mulai
Bani Umayyah, Bani Abbasiyah dan Turki Usmany merupakan negara adidaya
di masanya. Malah Kekhalifahan Turki Usmani pada jaman keemasannya
menguasi benua Asia, Eropa dan Afrika. Pada saat itu banyak orang-orang
eropa belajar ke khalifahan Turki Usmani. Hal ini karena di masa itu
tidak ada dikotomi antara Ilmu agama dan ilmu dunia. Negara tempat
Presiden Recep Tayyip Erdogan sekarang sedang menggeliat untuk
mengembalikan kejayaan Turki Usmani di masa lalu, karena sudah mulai
mendahulukan adab dan Akhlak. Program yang terkenal adalah Gerakan
Sholat Shubuh berjamaah di Masjid, Gerakan Ekonomi Umat dan Gerakan
Infak dan Sodaqoh.
Indonesia jika ingin maju harus melakukan hal
yang sama, tentunya harus dimulai dari para pemimpin Indonesia terlebih
dahulu dan rakyat tinggal mencontoh. Saya jadi ingat Sabda Nabi
Muhammad SAW “Sesungguhnya aku hanya diutus (tidak lain, kecuali) untuk
menyempurnakan akhlak”. Setelah direnungkan berdasarkan tulisan yang
saya buat, akhlak yang baik tidak hanya membuat manusia secara individu
menjadi manusia yang mulia, tetapi sebagai bangsa pun akan menjadi
bangsa yang mulia.
Saya berharap kita sebagai bangsa Indonesia,
mari kita bersama-sama memperbaiki akhlak. Langkah kecil dengan lomba
seperti Fachruddin Ar-Razi Competition diharapkan memacu dan memicu
anak-anak Indonesia yang beragama islam bisa menjadi anak yang mempunyai
adab dan akhlak yang baik serta pintar dalam bidang matematika. Saya
sangat berharap akan ada lomba matematika yang dipadukan dengan
pelajaran yang berhubungan dengan agama masing-masing siswa. Tim
pembuat soal agama tersebut adalah pemuka agama masing-masing seperti
Pendeta, Pastur, Biksu dan Pedande. Seadngkan KPM siap untuk membuat
soal matematikanya. Sehingga perbaikan Indonesia dalam hal adab dan
akhlak bisa berlangsung bersama-sama. Diharapkan akan terlahir generasi
baru Indonesia yang bertakwa kepada Yang Maha Kuasa dan mempunyai
kualitas sumber daya manusia tinggi. Pada saat itulah INDONESIA BANGKIT
seperti jaman keemasan Majapahit.
Point penting : Rahasia agar
anak pintar Matematika adalah Penyetaraan Ego Sosial dan ajarkan
terlebih dahulu Adab dan Akhlak yang baik.
Changchun, China, 1 Agustus 2015
Oleh : Raden Ridwan Hasan Saputra
Penulis adalah Pendiri dan Presiden Direktur Klinik Pendidikan MIPA (KPM) dan pelatih Olimpiade Matematika Internasional.
Baca Juga motivasi matematika lainnya
klik..
MOTIVASI BELAJAR MATEMATIKA
MOHON DIBAGIKAN...INI ILMU YG BERMANFAAT...
Sumber:
http://www.kpmseikhlasnya.com/home
http://www.ridwanhs.com
www.facebook.com/infoseputarprajurit