contooh teks Khutbah
Jumat bulan Muharram : Sikap Dalam Menghadapi Tahun Baru 1439 H
Khutbah Pertama
اَلْحَمْدُ للهِ،
وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ، سَيِّدِنَا وَمَوْلَنَا
مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ
وَمَوَّالَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ،
وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ
بَعْدَهُ.
اللَّهُمَّ صَلِّ
وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ دَعَا
بِدَعْوَتِهِ اِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ
اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ.
وَقَالَ اللهُ تَعَالَى
فِي اْلقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَهُوَ أَصْدَقُ الْقَائِلِيْنَ، أَعُوْذُ بِاللهِ
مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ :يَا
أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ
إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ (آل عمران: 102).
وَقَالَ فِي أَيَةٍ
أُخْرَى : كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ
أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ
الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ
الْغُرُورِ (آل عمران : 185).
Hadirin jama’ah jum’at yang
dimuliakan Allah SWT.
Hari ini sampai kita kepada hari
yang dimuliakan oleh Allah SWT yang disebut sebagai “Sayyidul Ayyam (induk dari
segala hari)”, Allah SWT masih memberikan kita umur panjang sampai saat ini.
Bukan hanya umur yang panjang, Allah juga telah memberikan nikmat sehat serta
nikmat istiqamah di dalam hati kita. Sehingga dengan nikmat-nikmat tersebut,
ringan kita melangkahkan kaki menyambut seruan azan, datang memenuhi panggilan
Allah, menunaikan shalat fardhu jum’at pada hari yang mulia ini.
Untuk itu kita bersyukur kepada
Allah. Bersyukur dengan ucapan, mari kita memperbanyak mengucapkan hamdalah
(Alhamdulillahi Robbil ‘Alamin). Bersyukur dengan perbuatan, mari kita
senantiasa istiqamah melaksanakan segala perintah Allah, dan menjauhi segala
larangan Allah SWT.
Selanjutnya, shalawat dan salam mari
kita bacakan untuk nabi Muhammad SAW. Mudah-mudahan dengan memperbanyak
shalawat, dalam kehidupan kita diberikan istiqamah, dan di akhir hayat kita
ditutup dengan husnul khatimah, dan ketika menghadap Allah SWT kita mendapatkan
syafaatnya, insya Allah, Amin-Amin ya Rabbal Alamin.
Ma’asyiral Muslimin sidang jama’ah jum’at rahimakumullah.
Marilah kita tingkatkan ketaqwaan
kita kepada Allah kapan dan dimanapun kita berada, karena kita tidak tahu kapan
ajal menjemput. Ketika ajal menjelang, ketika nafas sudah di tenggorokan, maka
tidak akan berguna lagi harta dan kedudukan, tidak berguna lagi taubat dan
penyesalan.
Ma’âsyiral muslimîn rahîmakumullâh
Alhamdulillah, beberapa hari yang
lalu kita telah melewati hari terakhir bulan Zulhijjah yang menandakan berakhirnya
tahun 1438 Hijiriyah. Sekarang kita diberikan Allah SWT kesempatan memasuki
hari-hari awal di bulan Muharram 1439 Hijriyah.
Mari kita renungkan, apa arti, apa
pelajaran yang dapat kita ambil dari kesempatan hidup yang Allah berikan pada
kita, sehingga kita dapat menghirup udara segar awal Muharram 1439 Hijriah ini?
Ma’âsyiral muslimîn rahîmakumullâh
Pelajaran terbesar yang kita
dapatkan ialah, bahwa Allah masih memberikan kesempatan kepada kita
melakukan muhasabatun nafsi (introspeksi diri) secara total.
Berupa keimanan kita, keislaman kita, ibadah kita, akhlak kita, pergaulan kita,
ilmu kita, kewajiban kita, tanggung jawab kita, manajemen waktu kita, life
style (gaya hidup) kita, dan semua hal yang terkait dengan kehidupan kita
selama setahun sebelumnya, yakni tahun 1438 Hijriyah.
Ma’âsyiral muslimîn rahîmakumullâh
Sesungguhnya muhasabatun
nafsi adalah kunci utama dalam kehidupan kita. Dengan Muhasabatun
nafsi, kita dapat mengetahui kelemahan dan kelebihan kita pada waktu yang
lalu, perbaikan hari ini dan persiapan serta perencanaan waktu yang akan
datang.
Dengan muhasabatun nafsi,
kita mampu menutupi kelemahan masa lalu dan meningkatkan kualitas diri pada
hari ini dan masa yang akan datang. Dengan muhasabatun nafsi, hidup
kita akan berkembang terus menuju ke arah yang benar dan lurus.
Bahkan dengan muhasabatun
nafsi, kita dapat mengetahui hakikat dan persoalan diri kita secara pasti,
amal yang kita lakukan dan bertambahnya kapasitas diri serta bekal menuju
perjalanan akhirat kita yang amat panjang dan pasti.
Muhasabatun nafsi adalah kekayaan yang harus
kita miliki, karena sangat penting dalam menjalankan kehidupan ini. Karena
itulah, Khalifah Umar ra. Berkata:
حَاسِبُوْا
أَنْفُوْسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوْا
(Hisablah,
hitung-hitung diri kamu sebelum kamu dihisab oleh Allah SWT)
وَزِنُوْاهَا
قَبْلَ أَنْ تُزَانُوْا
(Timbang-timbang
amal kamu sebelum amal kamu ditimbang oleh Allah SWT)
Ma’âsyiral muslimîn rahîmakumullâh
Mari kita bersiap menghadapi suatu
hari di mana semua manusia akan dikumpulkan di padang Mahsyar kelak. Di sana
Allah akan meminta pertanggungjawaban terhadap semua yang kita imani, yang kita
yakini, yang kita ucapkan dan yang kita lalukan secara detil dan rinci, tak
sedikit pun yang terlupakan. Jika baik, Allah akan berikan dengan balasan yang
baik, dan jika nilainya buruk, maka Allah juga akan memberikan balasan yang buruk.
Ma’âsyiral muslimîn rahîmakumullâh
Ada tiga perkara yang perlu kita
hisab, kita hitung-hitung dalam kehidupan ini:
Yang pertama, Masalah Dien, Agama kita,
yakni Al-Islam. Pertanyaan-pertanyaan berikut ini pantas kita arahkan pada diri
kita: Sudah sejauh mana kita memahami dan mengamalkan ajaran agama kita? Sejauh
mana kita memahami dan mengamalkan Al-Qur’an dan Sunnah Rasul SAW, sebagai
sumber utama ajaran agama kita?
Ma’âsyiral muslimîn rahîmakumullâh
Terkait masalah Dien ini, kita harus
selalu menanamkan dalam diri kita spirit dan semangat belajar, belajar dan
belajar. Karena Dienul Islam itu adalah ilmu, sedangkan ilmu tidak akan didapat
kecuali dengan belajar dan mempelajarinya. Para ulama kita telah merumuskan
ilmu Islam itu dengan rumusan yang sangat ilmiah, detil dan sangat sistematis
sehingga kita mudah memahami dan mengamalkannya. Secara umum, ilmu terkait
dengan Islam yang harus kita pelajari dan amalkan mencakup Iman/’Aqidah,
Ibadah, Akhlak, Mu’amalah, Keluarga dan Syari’ah.
Ma’âsyiral muslimîn rahîmakumullâh
Yang kedua, Masalah dunia kita. Dalam masalah
kehidupan dunia, ada 3 hal yang perlu kita hisab:
Pertama, bagaimana kita menyikapi
kehidupan dunia ini? Apakah kita mencintainya dan kita jadikan ia menjadi
tujuan hidup kita? Ataukah berbagai fasilitas kehidupan ini, termasuk uang,
rumah, kendaraan yang kita miliki, kita letakkan hanya sebagai sarana kehidupan
dan kita tidak mencintainya melebihi cinta pada Allah dan Rasul-Nya? Ingat!
Rasulullah mengajarkan kepada kita bahwa zuhud pada dunia adalah kunci mendapat
cinta Allah.
Kedua, dari mana asal usul semua
harta yang kita miliki? Apakah harta yang kita miliki benar-benar berasal dari
sumber yang halal dan tidak sedikitpun tercampur dengan yang haram seperti
riba, menipu, mencuri dan sebagainya, atau syubhat (belum jelas halal atau
haram). Harta yang haram dan syubhat menyebabkan hati kita sakit dan bahkan
bisa mati serta do’a kita tidak dikabulkan Allah. Pada akhirnya, di dunia kita
kehilangan barokah hidup dan di akhirat kita akan dilemparkan Allah ke dalam
neraka. Sebab itu, Allah dan Rasul-Nya menyuruh kita agar memakan, meminum dan
memakai dari sumber yang halal dan dari benda dan jenis yang dihalalkan.
Ketiga, kemana kita belanjakan dan
manfaatkan harta yang Allah anugerahkan pada kita? Kendati harta yang kita
dapatkan dengan cara yang halal dan jenisnya pun halal, bukan berarti kita
dibolehkan semau kita dalam membelanjakan dan memanfaatkannya. Islam mengatur
sistem belanja, distribusi dan pemanfaatan harta kita. Harta tersebut pada
hakikatnya Allah titipkan kepada kita agar menjadi modal kita untuk kepentingan
akhirat kita.
Sebab itu, Allah memotivasi kita
agar harta yang Allah anugerahkan itu kita infakkan/belanjakan di jalan-Nya
setelah kita keluarkan kewajiban yang ada di dalamnya seperti zakat, nafkah,
infaq, shadaqah, wasiat dan sebagainya.
Ma’âsyiral muslimîn rahîmakumullâh
Yang ketiga, Masalah akhirat yang akan menjadi
tempat tinggal kita selama-lamanya. Terkait masalah akhirat ini hanya ada dua
kata: Ikhlaskan niat kita hanya karena Allah dalam semua kata dan amal ibadah
yang kita lakukan, dan lakukan amal shaleh sebanyak mungkin yang dapat kita
lakukan.
Untuk itu, hidup kita harus
berorientasi akhirat dan jangan sampai kita lebih mencintai dunia ketimbang
akhirat, karena dunia semua isinya akan musnah, termasuk jasad kita sendiri,
sedangkan akhirat adalah kekal abadi. Di samping itu, jadikanlah sukses akhirat
sebagai standar kesuksesan yang hakiki.
Allah SWT menjelaskan:
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ (آل عمران : 185)
“Semua yang bernyawa pasti mati.
Nanti pada hari kiamat (akhirat) akan disempurnakan pahala kalian. Siapa yang
dijauhkan (pada hari itu) dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, maka
sungguh dialah yang sukses. Dan tidak adalah kehidupan dunia ini melainkan
kenikmatan yang menipu”. (Ali-Imran: 185)
Ma’âsyiral muslimîn rahîmakumullâh
Mari kita syukuri nikmat umur yang
telah Allah anugerahkan kepada kita sehingga kita dapat menghirup udara segar
di bulan Muharram 1439 Hijiriyah tahun ini dengan melakukan Muhasabatun nafsi.
Semoga Allah bantu kita, dan mudahkan kita dalam melakukan upaya meningkatkan
kualitas dien, dunia dan akhirat kita dalam tahun 1439 Hijiriah ini, dan semoga
hidup kita tahun ini lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Amin ya Robbal
‘alamin.
بَارَكَ
اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا
فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَلَّ اللهُ مِنِّيْ
وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ
هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ
الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ.
فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah
Kedua
الْحَمْدَ
لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ
شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ
مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ
اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ
وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهاَ
الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ
وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. قَالَ تَعَالَى: {وَمَن يَتَّقِ اللهَ يَجْعَل لَّهُ
مَخْرَجًا} وَقَالَ: {وَمَن يَتَّقِ اللهَ يُكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّئَاتِهِ
وَيُعْظِمْ لَهُ أَجْرًا}
ثُمَّ
اعْلَمُوْا فَإِنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَالسَّلاَمِ عَلَى رَسُوْلِهِ
فَقَالَ: {إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا
أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا}.
اللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا
صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، وَ
بَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا
بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ،
فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.
اَللَّهُمَّ
اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ
اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ
الدَّعَوَاتِ، وَ يَا قَاضِيَ الْحَاجَةِ.
رَبَّنَا
لاَ تَدَعْ لَنَا فِي مَقَامِنَا هَذَا وَ فِي سَاعَتِنَا هَذِهِ ذَنْبًا إِلاَّ
غَفَرْتَهُ، وَ لاَ هَمًّا إِلاَّ فَرَّجْتَهُ، وَ لاَ دَيْنًا إِلاَّ قَضَيْتَهُ،
وَ لاَ مُسَافِرًا إِلاَّ وَصَلْتَهُ، وَ لاَ مَرِيْضًا إِلاَّ شَفَيْتَهُ، وَ لاَ
مَيِّتًا إِلاَّ رَحِمْتَهُ، وَ لاَ حَاجَةً مِنْ حَوَائِجِ الدُّنْيَا لَكَ رِضًا
وَ لَنَا فِيْهَا صَلاَحًا إِلاَّ قَضَيْتَهَا وَ يَسَّرْتَهَا يَا أَكْرَمَ
اْلأَكْرَمِيْنَ
رَبَّنَا
آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ
النَّارِ.
عِبَادَاللهِ!
اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ، وَإِيْتآءِ ذِى اْلقُرْبىَ
وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِِ وَاْلبَغْي، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ
تَذَكَّرُوْنَ، فَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ
نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرْ، وَاللهُ يَعْلَمُ مَا
تَصْنَعُوْنَ.
تَصْنَعُوْنَ.
silahkan download format dengan format microsoft word di link di bawah ini:
Tidak ada komentar:
Posting Komentar